Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) puisi didefinisikan sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusun larik dan bait. Dalam dunia sastra, khususnya di Indonesia, kita tentunya sudah tidak ajaib lagi dengan penyair-penyair legendaris tanah air menyerupai Chairil Anwar, W. S. Rendra, Ismail Marzuki dan sebagainya.
Dalam mempelajari puisi kita perlu mengetahui bahwa puisi terdiri atas unsur intrinsik dan ekstrinsik pembangun sebuah puisi. Lalu tahukah kalian apa yang dimaksud dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi itu? Lalu apa saja macam-macamnya? Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas perihal pengertian, macam-macam dan pola unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi. Silahkan kalian simak baik-baik.
Apa itu Unsur Intrinsik Puisi?
Unsur intrinsik yaitu unsur-unsur yang berawal dari dalam naskah atau goresan pena puisi itu sendiri atau dengan kata lain unsur yang membangun puis dari dalam. Lalu apa saja yang termasuk unsur-unsur intrinsik puisi itu? Berikut ini jenis-jenis, pengertian dan pola unsur-unsur intrinsik puisi.
1. Tema Puisi
Tema puisi merupakan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh pengarang dalam suatu puisi secara keseluruhan. Dengan kata lain, tema puisi merupakan dasar dongeng atau titik tolak pengarang dalam menyusun suatu puisi. Tema-tema puisi yang sering dipakai oleh pengarang di antaranya protes, humanisme, religius, kritik, tanah air, alam, pendidikan, persahabatan, percintaan, kesedihan, kebahagiaan, kepahlawanan dan sebagainya.
Berikut ini yaitu beberapa pola puisi dengan tema persahabatan.
Persahabatan Sahabat bagaikn tempatku untuk berteduh.. Ketika diriku terkena air mata dalam kesedihanku, disanalah diriku bisa membuatkan kisah perihal hidupku, yang tak pernah saya dapatkan d’tempat lain… hanya sahabatlah yang bisa mengerti dan pahami, apa yang sedang saya alami ketika ini,.. tanpa sahabat,.. bagai jiwa yang terlepas dari ragaku,.. membuat ragaku tak bisa bergerak dalam setiap langkahku.. persahabatan ini kan abadi.. meski didunia ini tak kan ada yang abadi.. |
2. Tipografi (Perwajahan Puisi)
Tipografi merupakan bentuk dari puisi tersebut. Di antaranya mencangkup halaman puisi, tepi halaman, pengaturan baris, penulisan kata, penulisan tanda baca, penggunaan aksara kapital, dan sebagainya. Tipografi puisi yaitu segala hal yang sanggup dilihat dengan mata ketika membaca puisi.
3. Pesan (Amanat) Puisi
Pesan disebut juga amanat puisi. Pesan yaitu sesuatu yang ingin disampaikan penyair kepada pembacanya/pendengarnya. Pesan merupakan nilai yang didapat dan dilihat dari sudut pandang penyair, sedangkan kesan yaitu nilai dari segi pembaca atau pendengar. Berikut ini yaitu pola puisi yang mengandung amanat yang luhur.
Guruku Oleh: KH A Mustofa Bisri Ketika saya kecil dan menjadi muridnya Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar Ketika saya besar dan menjadi pintar Kulihat beliau begitu kecil dan lugu Aku menghargainya dulu Karena tak tahu harga guru Ataukah sekarang saya tak tahu Menghargai guru? |
Pada pola puisi di atas, pesat atau amanat yang terkandung di dalamnya yaitu bahwa kita harus menghargai jasa guru yang telah mengajar dan mendidik kita meskipun kita telah menjadi orang besar dan berpangkat tinggi.
4. Diksi (Pemilihan Kata)
Diksi yaitu pilihan kata yang dipakai oleh penyair untuk mewakili apa yang dipikirkannya sebagai media ekspresi dalam puisi. Pengarang memakai citraan, majas, kata asing, atau kata lain untuk mewakilinya. Diksi sangat besar lengan berkuasa terhadap keindahan puisi. Pemilihan kata yang sempurna akan memperlihatkan daya magis yang sangat kuat pada puisi yang penyair ciptakan.
Namun, hendaknya disadari bahwa kata-kata dalam puisi bersifat konotatif, artinya mempunyai kemungkinan makna yang lebih dari satu. Kata-katanya juga dipilih yang puitis artinya mempunyai efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang Anda pakai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemilihan kata yang cermat ini, orang akan pribadi tahu bahwa yang dihadapi itu puisi.
5. Nada (Tone)
Adalah perilaku penyair terdapat pembacanya. Nada berafiliasi dengan tema dan rasa. Penyair sanggup memberikan tema baik dengan nada yang menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca dalam pemecahan masalah, menyerahkan problem kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap kolot dan rendah pembaca dan sebagainya.
Nada yang tinggi biasanya menggambarkan kemarahan, dan nada rendah biasanya menggambarkan kesedihan. Selain itu ada nada yang mengambarkan sebuah protes, ada nada yang mengambarkan kebencian, ada nada yang mengambarkan keterkejutan, ada nada yang mengambarkan sebuah sindiran, dan lain-lain. Perhatikan pola berikut.
Di Negeri amplop Oleh : (Gus Mus) Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya “malu” Samson tersipu – sipu, rambut keramatnya dituupi topi “rapi – rapi” david coverfil dan rudini bersembunyi “rendah diri” entah, andai Nabi Musa bersedia tiba membawa tongkatnya amplop – amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur Hal – hal yang tak teratur menjadi teratur Hal – hal yang teratur menjadi tak teratur Memutuskan putusan yang tak putus Membatalkan putusan yang sudah putus Amplop – amplop menguasai penguasa dan mengendalikan orang – orang biasa amplop – amplop membeberkan dan menyembunyikan mencairkan dan membekukan mengganjal dan melicinkan Orang bicara bisa bisu Orang mendengar bisa tuli Orang alim bisa nafsu Orang sakti bisa mati Di negri amplop, amplop – amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja |
Dalam pola puisi tersebut kita sanggup mengidentifikasi bahwa ada nada sindiran dalam larik puisi tersebut.
6. Rasa (Feeling)
Yaitu perilaku penyair mengenai pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya akan latar belakang sosial dan psikologi penyair, menyerupai latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan.
Kedalaman pengungkapan tema dan ketetapan dalam menyikapi suatu problem tidak tergantung dari kemampuan penyair memili kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, namun juga dari wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan keperibadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya. Perhatikan pola puisi berikut ini.
Hatiku selembar daun Oleh : (Sapardi Djoko Damono) Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput Nanti dulu, biarkan saya sejenak berbaring di sini Ada yang masih ingin ku pandang Yang selama ini senantiasa luput Sesaat yaitu abadi Sebelum kau sapu taman setiap pagi |
Dalam pola puisi di atas sanggup dengan gampang kita mengidentifikasi unsur intrinsik puisi yaitu “rasa” seperti kiata mencicipi apa yang dirasakan oleh penulis.
7. Majas (Gaya Bahasa)
Gaya bahasa atau majas yaitu cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Jenis gaya bahasa atau majas yang sering dipakai dalam puisi adalah:
A. Metafora
Metafora yaitu kiasan kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan itu tidak disebutkan. Dalam "Surat Cinta", Renda mengiaskan diri kekasihnya bagai putri duyung.
engkaulah putri duyung tawananku putri dyung dengan bunyi merdu lembut bagi angin laut mendesahlah bagiku. |
B. Personifikasi
Personifikasi yaitu insiden alam yang dikiaskan sebagai keadaan atau insiden yang dialamai manusia. Dalam "Padamu Jua" Amir Hamjah menulis :
pelita jendela di malam gelap melambai pulang perlahan engkau cemburu engkau ganas mangsa saya dengan cakarmu bertukar tangkap dengan lepas. |
C. Hiperbola
Hiperbola yaitu kiasan yang berlebih-lebihan. Untuk melebih-lebihkan sifat buruk yang dikritik, Rendra membuat hiperbola sebagai berikut:
politisi dan pegawai tinggi adalah caluk yang rapih kongres-kongres dan konferensi tak pernah berjalan tanpa kalian. |
D. Ironi
Dalam puisi pamflet, demonstrasi, dan kritik sosial, banyak dipakai ironi, yakni kata-kata yang bersifat berlawanan untuk memperlihatkan sindiran. Ironi sanggup bermetamorfosis sinisme dan sarkasme, yakni penggunaan kata-kata yang keras dan kasar untuk menyindir atau mengeritik. Nada sinisme sanggup dinikmati dalam sajak Rendra berjudul "Sajak Sebotol Bir" ini.
kota metropilotan disini tidak tumbuh dari industri tapi tumbuh dari negara industri asing akan pasaran dan sumber pengadaan materi alam kota metropulitan disini adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika, Australia, dan negara industri lainya. |
8. Pengimajian
Pengimajian yaitu kata atau susunan kata-kata yang sanggup mengungkapkan pengalaman sensoris, menyerupai penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Diksi dan pengimajian mempunyai kekerabatan yang sangat erat. Diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajian.
Baris atau bait puisi itu seolah mengandung gema bunyi (imaji auditif), benda yang nampak (imaji visual), atau sesuatu yang sanggup Anda rasakan, raba atau sentuh (imaji taktil). Ketiganya digambarkan oleh bayangan kasatmata yang sanggup Anda hayati secara nyata.
Contoh diksi dan pengimajian terlihat dalam petikan puisi Perempuan-Perempuan Perkasa karya Hartoyo Andangjaya berikut ini.
... Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta dari manakah mereka Di atas roda-roda baja mereka berkendara Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota merebut hidup di pasar-pasar kota ... |
Dalam puisi tersebut, dipilih kat-kata yang berisi perilaku kagum penyair kepada perempuan-perempuan perkasa. Untuk memperlihatkan rasa kagum itu, penyair tidak cukup dengan penyebutan wanita perkasa. Untuk memperkonkret gambaran dalam pikiran pembaca, Ia memakai pengimajian berupa ungkapan /Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta./. Untuk memperlihatkan kendaraan bagi perempuanperempuan itu secara kasatmata penyair membuat pengimajian "Di atas roda-roda baja mereka berkendara".
9. Sajak (Rima)
Keindahan sebuah puisi terdapat pada rima/sajak bunyi di simpulan baris sesuai pilihan kata yang digunakan.
Contoh:
Hati yang masygul menjadi senang Sukma riang terbang melayang Karna lahir kerinduan semalam Ribaan Hua yang ku kenang Kudapat terang kasih dan sayang Serta hening hati di dalam |
Dalam sajak di atas yang mayoritas yaitu bunyi sengau/ng, m, n/. Bunyi sengau dalam sajak ini mendukung suasana bunyi yang khusuk dan rasa senang si saya lantaran ia menerima kasih sayang, serta kedamaian hati alasannya kerinduannya pada Hua (Tuhan) hadir pada dirinya dan hatinya. Perhatikan pula sajak simpulan baris, kekonsistenan pada keindahan rima/sajak ditonjolkan pada kata /senang, melayang, semalam, ku kenang, sayang, dan dalam/.
10. Irama
Irama atau ritme yaitu gambaran suasana hati penyair dalam melafalkan puisi. Biasanya berupa persamaan bunyi pada baris tertentu yang kadang kala berpola tetap. Irama yang terdapat dalam puisi menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca lantaran memperlihatkan kesan yang indah ketika puisi tersebut dilafalkan.
11. Enjambemen
Enjambemen yaitu pemotongan kalimat atau frase dengan diakhiri lirik yang kemudian meletakkan potongan itu diawal larik berikutnya. Tujuannya yaitu untuk memperlihatkan tekanan pada bab tertentu ataupun sebagai penghubung antara bab yang mendahuluinya dengan bagian-bagian yang berikutnya.
Enjambemen merupakan tata kalimat dari simpulan baris diatasnya ke awal baris berikutnya di dalam puisi. Enjambemen berasal dari bahasa Perancis, yaitu Enjambement yang berarti melanggar batas. Dalam puisi, enjambemen diartikan sebagai larik sambung, larik yang secara sintaksis melompat, bersambung ke larik berikut. Berikut ini yaitu cotoh enjabemen dalam puisi.
Puisi dua enjambemen karya Chairil Anwar, Aku Melangkahkan saya bukan tuak menggelegak Cumbu-buatan satu biduan Kujauhi hebat agama serta lembing-katanya. Aku hidup Dalam hidup di mata tampak bergerak Dengan cacar melebar, barah bernanah Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga. |
12. Kata Konkret
Kata kasatmata yaitu kata yang memungkinkan memunculkan imajinasi lantaran sanggup ditangkap indera yang mana kata ini berafiliasi kiasan atau lambang. Seperti kata kasatmata "salju" di mana melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dan sebagainya. Sedangkan kata kongkret "rawa-rawa" melambangkan daerah kotor, daerah hidup, bumi, kehidupan dan sebagainya.
13. Aku lirik
Dalam sebuah karya sastra, baik itu puisi maupun cerpen, terdapat kehadiran si “aku”. “Aku” dalam karya tersebut disebut “aku lirik” artinya tokoh yang dihadirkan atau dijelmakan oleh pengarang/penulisnya dan si “aku” lirik tadi dalam karya bukanlah saya dalam pengertian si penulis dan pengarang. Ini untuk menegaskan bahwa “aku” dalam karya Anda yaitu “aku lirik” dan bukan “aku’ sebagai diri pengarang.
14. Bait dalam Puisi
Bait merupakan satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya. Dalam puisi, keberadaan bait sebagai kumpulan larik tidaklah mutlak. Perhatikanlah puisi "Isa" karya Chairil Anwar berikut.
Itu tubuh mengucur darah mengucur darah rubuh patah mendampar tanya: saya salah? |
Puisi Chairil Anwar tersebut terdiri atas enam bait, tiga di antaranya merupakan bait yang hanya terdiri atas satu larik puisi tersebut. Salah satunya terdapat dalam penggalan tersebut, yakni bait "mendampar tanya: saya salah?" Peranan bait dalam puisi yaitu untuk membentuk suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya.
15. Makna Puisi
Makna puisi yaitu isi yang tersirat dalam puisi tersebut. Untuk menemukan isi puisi, kau harus mendengarkan pembacaan puisi dengan saksama dan memahami simbol atau lambang dari puisi.
Contoh:
Aku Kalau hingga waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu! |
Dari bait puisi di atas, sanggup ditemukan isinya, yaitu sebagai berikut. Dalam sajak di atas menampilkan wangsit atau gagasan individualisme di Aku yang ingin hidup mandiri. Ku mau memperlihatkan semangat individualisme si penyair.
Si Aku dengan kemauannya sendiri menolak orang lain untuk bersedih pada ketika kematiannya. Bahkan orang yang paling akrab dengan beliau tidak perlu bersedih pada ketika kematiannya nanti. Orang yang paling akrab dengan beliau pun tidak perlu bersedih alasannya hidup-mati itu yaitu tanggung jawab pribadi. Oleh lantaran itu tak perlu sedu sedan itu!
Apa itu Unsur Ekstrinsik Puisi?
Unsur ekstrinsik puisi yaitu unsur yang membangun puisi dari luar. Dengan kata lain, unsur yang menghipnotis baik buruknya puisi dari luar kandungan puisi tersebut. Lalu apa saja yang termasuk unsur-unsur ekstrinsik puisi itu? Berikut ini klarifikasi lengkapnya.
1. Unsur Biografi
Unsur boigrafi ini yaitu latar belakang pengarang. Latar belakang cukup besar lengan berkuasa dalam pembuatan puisi, misalkan penulis puisi yang latar belakangnya berasal dari keluarga miskin, maka bila ia membuat puisi akan sangat menyentuh hati para pembacanya, yang terbawa dari latar belakang penulis sehingga bisa dikesankan dalam sebuah puisi.
2. Unsur Sosial
Unsur sosial sangat erat kaitanya dengan kondisi masyarakat ketika puisi itu dibuat. Misalkan puisi itu dibentuk ketika masa orde gres menjelang berakhir. Pada ketika itu kondisi masyarakat itu sedang sangat kacau dan keadaan pemerintahan pun sangat carut marut, sehingga puisi yang dibentuk pada ketika itu yaitu puisi yang mengandung sindiran-sindiran terhadap masyarakat.
13. Aku lirik
Dalam sebuah karya sastra, baik itu puisi maupun cerpen, terdapat kehadiran si “aku”. “Aku” dalam karya tersebut disebut “aku lirik” artinya tokoh yang dihadirkan atau dijelmakan oleh pengarang/penulisnya dan si “aku” lirik tadi dalam karya bukanlah saya dalam pengertian si penulis dan pengarang. Ini untuk menegaskan bahwa “aku” dalam karya Anda yaitu “aku lirik” dan bukan “aku’ sebagai diri pengarang.
14. Bait dalam Puisi
Bait merupakan satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya. Dalam puisi, keberadaan bait sebagai kumpulan larik tidaklah mutlak. Perhatikanlah puisi "Isa" karya Chairil Anwar berikut.
Itu tubuh mengucur darah mengucur darah rubuh patah mendampar tanya: saya salah? |
Puisi Chairil Anwar tersebut terdiri atas enam bait, tiga di antaranya merupakan bait yang hanya terdiri atas satu larik puisi tersebut. Salah satunya terdapat dalam penggalan tersebut, yakni bait "mendampar tanya: saya salah?" Peranan bait dalam puisi yaitu untuk membentuk suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya.
15. Makna Puisi
Makna puisi yaitu isi yang tersirat dalam puisi tersebut. Untuk menemukan isi puisi, kau harus mendengarkan pembacaan puisi dengan saksama dan memahami simbol atau lambang dari puisi.
Contoh:
Aku Kalau hingga waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu! |
Dari bait puisi di atas, sanggup ditemukan isinya, yaitu sebagai berikut. Dalam sajak di atas menampilkan wangsit atau gagasan individualisme di Aku yang ingin hidup mandiri. Ku mau memperlihatkan semangat individualisme si penyair.
Si Aku dengan kemauannya sendiri menolak orang lain untuk bersedih pada ketika kematiannya. Bahkan orang yang paling akrab dengan beliau tidak perlu bersedih pada ketika kematiannya nanti. Orang yang paling akrab dengan beliau pun tidak perlu bersedih alasannya hidup-mati itu yaitu tanggung jawab pribadi. Oleh lantaran itu tak perlu sedu sedan itu!
Apa itu Unsur Ekstrinsik Puisi?
Unsur ekstrinsik puisi yaitu unsur yang membangun puisi dari luar. Dengan kata lain, unsur yang menghipnotis baik buruknya puisi dari luar kandungan puisi tersebut. Lalu apa saja yang termasuk unsur-unsur ekstrinsik puisi itu? Berikut ini klarifikasi lengkapnya.
1. Unsur Biografi
Unsur boigrafi ini yaitu latar belakang pengarang. Latar belakang cukup besar lengan berkuasa dalam pembuatan puisi, misalkan penulis puisi yang latar belakangnya berasal dari keluarga miskin, maka bila ia membuat puisi akan sangat menyentuh hati para pembacanya, yang terbawa dari latar belakang penulis sehingga bisa dikesankan dalam sebuah puisi.
2. Unsur Sosial
Unsur sosial sangat erat kaitanya dengan kondisi masyarakat ketika puisi itu dibuat. Misalkan puisi itu dibentuk ketika masa orde gres menjelang berakhir. Pada ketika itu kondisi masyarakat itu sedang sangat kacau dan keadaan pemerintahan pun sangat carut marut, sehingga puisi yang dibentuk pada ketika itu yaitu puisi yang mengandung sindiran-sindiran terhadap masyarakat.
3. Unsur Nilai
Unsur nilai dalam puisi ini mencakup unsur yang berkaitan dengan pendidikan, seni, ekonomi, politik, sosial, budaya, adat-istiadat, hukum, dan lain-lain. Nilai yang terkandung dalam puisi menjadi daya tarik tersendiri sehingga sangat menghipnotis baik atau tidaknya puisi.
Sumber https://blogbahasa-indonesia.blogspot.com/